WIMAX
TEKNOLOGI
WIMAX
Teknologi WiMAX merupakan salah satu
teknologi yang diramalkan akan menggeser keberadaan teknologi 3G. Indonesia
saat ini masih belum terlalu banyak menggunakan teknologi 3G. Indonesia belum
terlalu akrab juga dengan teknologi WiMAX ini,
Semua orang kini mengetahui bahwa
teknologi akan terus berubah dan bergerak maju. Jika dulu teknologi seluler
hanya ditujukan untuk komunikasi suara saja (teknologi 1G dan 2G), kini
komunikasi data sudah mulai mengejar dalam jumlah persentase yang cukup besar.
Dalam beberapa tahun kedepan, jumlah ini tidak akan terpaut jauh walaupun
komunikasi lisan tetap akan mendominasi. Berbagai teknologi termasuk 3G adalah
satu bentuk teknologi yang pada akhirnya akan berevolusi menjadi sesuatu yang
usang di masa depan. Penemuan-penemuan baru akan menggantikan teknologi yang
digunakan saat ini. Dari kondisi ini harus dipikirkan bagaimana pemanfaatan
teknologi secara maksimal karena implementasinya yang pasti sangat mahal.
Teknologi baru yang muncul baru-baru
ini antara lain Wimax, yang ditengarai akan mengalahkan 3G. Teknologi 3G
sendiri saat ini belum terlalu merajai pasar. Wimax belum bergaung dengan jelas
di Indonesia, tetapi sebagian kalangan ahli telekomunikasi di luar negeri sudah
meramalkan bahwa teknologi ini yang akan membunuh teknologi 3G. Menurut analis
TelecomView, nantinya Wimax akan menjadi kunci dasar teknologi telekomunikasi
yang menghadirkan layanan suara dan data kecepatan tinggi (pada tahun 2010).
Selain itu dalam lima tahun mendatang mereka juga memperkirakan, WiMax Wireless
Wide Area Network broadband semakin bertambah pesat. (Henry, 2009) Dengan
munculya WiMAX secara otomatis akan menimbulkan persaingan antara pengusung
WiMAX dengan vendor pengusung 3G. Masing-masing saling berlomba menunjukkan
kebolehan dan keunggulan baik yang terkait dengan teknologi, layanan, investasi
(nilai ekonomis) maupun dalam kemudahan penggunaan dan pemeliharaannya.
Banyak negara yang sudah mengimplementasikan
teknologi 3G (di Indonesia masih uji coba) namun untuk WiMAX masih dalam proses
sertifikasi. Kalaupun ada yang mengimplementasikan masih menggunakan teknologi
pre WiMAX. Banyak faktor penentu untuk suksesnya implementasi suatu teknologi.
Dengan demikian sangat perlu diperhatikan tentunya bagi operator yang akan
mengoperasikan teknologi khususnya WiMAX.
1.
Penjelasan teknologi WIMAX
Menurut Wikipedia, WiMAX adalah singkatan dari Worldwide
Interoperability for Microwave Access, merupakan teknologi akses nirkabel pita
lebar (broadband wireless access atau disingkat BWA) yang memiliki kecepatan
akses yang tinggi dengan jangkauan yang luas. Lebih lanjut dalam website Wimax
Education, dijelaskan bahwa Wimax ini ditujukan sebagai jaringan wireless bagi
daerah metropolitan. Worldwide
Interoperability for Microwave Access (WiMAX) merupakan evolusi dari teknologi
Broadband Wireless Access (BWA) sebelumnya. Bila teknologi BWA sebelumnya masih
proprietary, maka teknologi WiMAX bersifat open standar. Dalam arti komunikasi
perangkat WiMAX diantara beberapa vendor yang berbeda tetap dapat dilakukan
(Adhiatmadja, 2006). Wimax dapat menyediakan BWA sampai 50 km untuk stasiun
tetap (fixed station) dan 5-15 km untuk stasiun yang bergerak (mobile station).
WiFi/802.11 standar jaringan wirelessnya hanya terbatas antara 30 – 100m.
Dengan Wimax dapat membantu tingkat pengiriman data WiFi.
Wimax beroperasi baik di frekuensi berlisensi mauoun yang tidak, menyediakan
lingkungan yang teratur dan model ekonomi yang hidup untuk pembawa wireless (wireless
carriers). Wireless dapat digunakan untuk jejaring dalam cara yang sama seperti
protokol WiFi yang umum. Wimax merupakan protokol generasi kedua yang
menyediakan penggunaan bandwidth yang lebih efisien, menghindari interferennsi,
dan ditujukan untuk tingkat data yang lebih tinggi pada jarak yang lebih jauh.
Pengembangan teknologi WiMAX terjadi dalam beberapa tahap
atau mengalami evolusi. Sesuai dengan standarisasinya, dikatakan bahwa
teknologi WiMAX diatur dalam standard IEEE 802.16. Standard ini terbagi lagi
dalam beberapa kategori yaitu IEEE 802.16a yaitu untuk standard BWA yang belum
open standard atau biasa disebut dengan Pre-WiMAX. Selanjutnya standard ini
dikembangkan lagi menjadi standard IEEE 802.16d untuk WiMAX fixed/nomadik.
Sementara untuk WiMAX Mobile akan diatur dalam standarisasi IEEE 802.16e yang
telah diratifikasi pada akhir tahun 2005.
Disamping evolusi pada sisi kemampuan akses, terjadi juga
evolusi pada sisi CPE. Pada tahap awal, perangkat CPE WiMAX berupa Fixed
Outdoor, kemudian berkembang menjadi Fixed Indoor, portability (nomadik) dan
mobile. Perangkat Fixed Outdoor merupakan perangkat CPE terdiri dari 2 unit
yaitu unit outdoor yang terdiri dari radio dan antena serta unit indoor yang
merupakan interface ke terminal pelanggan. Pada tipe Fixed Indoor, perangkat
CPE hanya terdiri dari satu unit indoor yang sudah terdiri dari radio, antena
dan port user interface. Umumnya pada tipe ini, user dapat menginstal sendiri
perangkat CPE-nya (self installation).
Tahap berikutnya, perangkat CPE sudah bukan merupakan
perangkat independent tetapi tergabung dalam terminal pelanggan seperti laptop
dan PDA. Pada tahap ini, CPE WiMAX portable telah terpasang permanen pada
terminal sebagaimana CPE Wi-Fi. Terakhir adalah perangkat mobile. Keunggulan
yang ditambahkan adalah kemampuan portability yang lebih tinggi selain ukuran
terminal yang lebih kompak. Pada tahap ini perangkat terminal WiMAX merupakan
perangkat handphone. Dengan adanya pengembangan evolusi di CPE WiMAX, maka
secara otomatis juga akan mempengaruhi market yang disasar.
2.
Aplikasi WIMAX
WiMAX dapat dimanfaatkan untuk backhaul WiMAX itu sendiri,
backhaul Hotspot dan backhaul teknologi lain. Dalam konteks WiMAX sebagai
backhaul dari WiMAX aplikasinya mirip dengan fungsi BTS sebagai repeater untuk
memperluas jangkauan dari WiMAX. Sedangkan sebagai backhaul teknologi lain,
WiMAX dapat digunakan untuk backhaul seluler. Juga Kalau biasanya hotspot
banyak menggunakan saluran ADSL sebagai backhaulnya, namun karena keterbatasan
jaringan kabel, maka WiMAX dapat dimanfaatkan sebagai backhaul hotspot.
(Ahmadi, 2009)
WiMAX dapat digunakan sebagai ”Last Mile” teknologi untuk
melayani kebutuhan broadband bagi pelanggan. Dari pelanggan perumahan maupun
bisnis dapat dipenuhi oleh teknologi WiMAX ini. WiMAX sebagai penyedia layanan
personal broadband dapat dimanfaatkan untuk dua 2 pangsa pasar yaitu yang
bersifat nomadic dan mobile. Untuk solusi nomadic, maka biasanya tingkat
perpindahan dari user WiMAX tidak sering dan kalaupun pindah dalam kecepatan
yang rendah. Perangkatnya pun biasanya tidak sesimpel untuk aplikasi mobile.
Untuk aplikasi mobile, pengguna layanan WiMAX melakukan mobilitas layaknya
menggunakan terminal WiFi seperti notebook, PDA atau smartphone. (Ahmadi, 2009)
3.
Aplikasi WIMAX
Kalau di awal era komunikasi data yang dilewatkan jaringan
tanpa kabel (wireless) baik itu seluler maupun fixed adalah layanan pesan
pendek (SMS), data GPRS atau CDMA2000 1X, aplikasi mobile banking dan download
content maka untuk dekade yang akan datang diperkirakan layanan broadband akan
menjadi kebutuhan yang paling diinginkan pelanggan. Dari berbagai studi oleh
lembaga konsultan dan operator di negara maju layanan-layanan tersebut adalah
layanan 3G (third generation), layanan Internet di jaringan wireless, mobile
TV, mobile video on demand dan juga layanan mobile video conference. Akan
menjadi tipis beda antara layanan yang diberikan oleh jaringan wireline dengan
jaringan wireless. (Adhiatmadja, 2006)
Alokasi Spektrum Global
Alokasi Spektrum Global
WiMAX adalah standar global baru sehingga di tingkat dunia
pun masih diperlukan kesepaktan bersama untuk alokasi spektrumnya. Setiap
negara melalui regulasinya sekarang makin intensif memandang penting WiMAX
sebagai core utility. Itu sebabnya regulator sibuk menyelaraskan alokasi frekuensi
WiMAX dengan alokasi frekuensi eksisting. Tabel di bawah ini merupakan alokasi
frekuensi yang dapat digunakan oleh operator WiMAX di dunia.
Elemen/
perangkat WiMAX
- Base Station (BS)
- Base Station (BS)
Merupakan perangkat
transceiveryang biasanya dipasang satu lokasi dengan jaringan Internet Protocol
(IP). Dari BS ini akan disambungkan ke beberapa CPE dengan media interface
gelombang radio (RF) yang mengikuti standar WiMAX. Komponen BS terdiri dari:
1. NPU (networking processing unit card)
2. AU (access unit card)up to 6 +1
3. PIU (power interface unit) 1+1
4. AVU (air ventilation unit)
5. PSU (power supply unit) 3+1
- Antena
1. NPU (networking processing unit card)
2. AU (access unit card)up to 6 +1
3. PIU (power interface unit) 1+1
4. AVU (air ventilation unit)
5. PSU (power supply unit) 3+1
- Antena
Antena
yang dipakai di BS dapat berupa sektor 60°, 90°, atau 120° tergantung dari area
yang akan dilayani.
- Subscriber Station (SS)
- Subscriber Station (SS)
Secara
umum Subscriber Station (SS) atau (Customer Premises Equipment) CPE terdiri
dari Outdoor Unit (ODU) dan Indoor Unit (IDU), perangkat radionya ada yang
terpisah dan ada yang terintegrasi dengan antena.
- Network Manajemen Jaringan WiMAX
Sebuah
Network Management System adalah kombinasi dari hardware dan software yang
digunakan untuk memonitor dan mengatur jaringan. Setiap elemen jaringan di
jaringan akan dikelola oleh sebuah elemen sistem manajemen. Pada dasarnya pada
saat kita menggunakan Network Manajemen di WiMAX, kita dapat menentukan.
a. Base Station yang menjadi bagian dari jaringan
WiMAX yang kita managed.
b. User / Subscriber yang menjadi pelanggan. Tersambung
kemana saja subscriber tersebut.
c. Quality of Service dan Classifer untuk masing-masing produk
yang akan digunakan oleh pelanggan.
Perbandingan
yang lebih detil antara WiMAX dan Wi-Fi :
A. Jarak
WiMAX
(IEEE802.16)
Optimal
untuk jarak penggunaan di bawah 100 meter.
Jangkauan
dapat diperluas dengan menggunakan directional antenna.
Wi-Fi
(IEEE802.11).
Dapat
digunakan sampai jarak 50 km.
Ukuran
cell yang optimal antara 7-10 km
B. Coverage
WiMAX
(IEEE802.16)
Optimal
untuk pemakaian di dalam ruangan
Wi-Fi
(IEEE802.11).
Dirancang
untuk penggunaan di luar ruangan
Dapat
digunakan dalam kondisi NLOS (Non-Line of Sight).
C. Skalabilitas
WiMAX
(IEEE802.16)
Tersedia 3 kanal yang
non-overlapping pada IEEE802.11b
Tersedia 5 kanal pada IEEE802.11a.
Kanal bandwidth dibuat tetap.
Wi-Fi
(IEEE802.11).
Kanal
hanya dibatasi oleh spektrum frekuensi yang tersedia.
Kanal
bandwidth dibuat fleksibel dari 1,5 MHz sampai 20 MHz.
Dapat
dilakukan frequency re-use pada perancangan cell.
D.
Bit rate
WiMAX (IEEE802.16) : 2,7 bps/Hz peak data rate. Dapat
mencapai 54 Mbps pada kanal 20 MHz.
Wi-Fi (IEEE802.11) :5 bps/Hz peak data rate. Dapat mencapai
100 Mbps pada kanal 20 MHz.
Contention-based MAC.
Rancangan awal tidak mendukung QoS.
E. Quality of Service (QoS)
WiMAX
(IEEE802.16)
Contention-based MAC.
Rancangan awal tidak mendukung QoS.
Wi-Fi
(IEEE802.11)
Grant-request MAC.
QoS dirancang untuk voice/video, dan
differentiated services.
4.
Pembahasan
Perkembangan Implementasi teknologi akses WiMax di Indonesia
masih terlalu lambat. Inisiatif WiMax yang seharusnya dapat memicu pertumbuhan
penetrasi jaringan broadband justru tidak mengalami kemajuan sejak ditender
pada Juli 2009. Indonesia memiliki beberapa problematika infrastruktur
komunikasi data, yang pertama ketersediaan high speed backbone antar kota dan
antar pulau, khususnya Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Indonesia Timur.
Kedua pembangunan FO dan layanan Metro Ethernet masih terpusat pada beberapa
kota besar (Medan, Jakarta, Surabaya).
Ketiga ketersediaan infrastruktur high speed access (last
mile) untuk mengoptimalkan infrastruktur backbone yang telah dibangun dan untuk
system komunikasi di remote area. Keempat penggunaan infrastruktur Selular
untuk komunikasi data masih belum optimal (masih diutamakan untuk komunikasi
voice). Kelima perkembangan kebutuhan komunikasi data dan voice semakin
terdistribusi ke daerah-daerah (dampak otonomi daerah). Keenam peran pemerintah
sebagai regulator masih sangat diperlukan, terutama percepatan dan konsistensi
implementasinya.
Maka bagaimana permasalahan komunikasi tersebut di atasi
dengan teknologi WIMAX? WiMAX adalah akronim Worldwide Interoperability for
Microwave Access standar teknologi yang memungkinkan diselenggarakannya akses
wireless broadband pada last mile (end user) sebagai alternatif dari kabel dan
DSL. WiMAX menyediakan fixed, nomadic, portable dan mobile wireless
connectivity tanpa membutuhkan line-of-sight dengan base station. Pada radius
sel yang dilayaninya 3 x 10 km sistem yang telah disertifikasi WiMAX Forum
Certified dapat diharapkan melewatkan kapasitas sampai 40 Mbps per kanal untuk
aplikasi akses fixed dan portable. Bandwidth yang tersedia akan cukup
untuk mendukung secara simultan ratusan bisnis dengan kapasitas T1 dan ribuan
pengguna rumahan dengan kapasitas setara DSL. Aplikasi untuk jaringan mobile
diharapkan dapat mencapai kapasitas 15 Mbps dalam radius sel hingga 3 km.
Diharapkan pada 2006 teknologi WiMAX sudah akan diadopsi ke dalam PDA notebook
dan perangkat mobile gadget lainnya, memungkinkan area urban dan kota untuk
menjadi “MetroZones” untuk portable outdoor broadband wireless access.
WiMAX dan Wi-Fi akan saling koeksis dan meningkatkan
teknologi yang saling komplementer terhadap semua aplikasinya. WiMAX tidak
diposisikan sebagai pengganti Wi-Fi. Justru, WiMAX akan komplemen dengan Wi-Fi
dengan memperluas jangkauan dan layanan sebagaimana pengguna rasakan dengan
Wi-Fi, namun dengan skala geografis yang lebih luas.
Teknologi Wi-Fi didesain dan dioptimasi untuk Local Area
Networks (LAN), sedangkan WiMAX didesain dan dioptimasi untuk Metropolitan Area
Networks (MAN). Pada 2006-2008, diharapkan 802.16 dan 802.11 akan tersedia pada
perangkat pengguna mulai laptop hingga PDA, keduanya akan menyediakan koneksi
wireless connectivity langsung kepada pengguna di rumah, kantor dan saat
bergerak (mobile).
Di Indonesia, hal ini lebih tergantung pada pemerintah.
Salah satu yang sangat krusial adalah masalah frekuensi. Karena roadmap yang
mereka sepakati di WiMAX forum itu mereka akan main di tiga frekuensi,
bandwidth begitu besar, maka frekuensinya dari 2 GHz sampai 11 GHz. Namun, para
pabrikan yang sudah sepakat, mereka akan mengeluarkan di 3,5 GHz dulu, kemudian
di 5,8 GHz, selanjutnya 2,5 GHz. Ada beberapa tantangan lain untuk implementasi
WiMAX di Indonesia, yang pertama perlu ada pengaturan ulang frekuensi kerja
untuk BWA, termasuk untuk WiMAX. Lalu standarisasi penggunaan perangkat dan
pengaturan interoperability dengan memperhatikan trend glogal. Juga peluang
yang sangat besar untuk berbagai jenis aplikasi (multimedia) yang memerlukan
infrastruktur "high speed access" dengan harga semakin murah.
Tantangan lain adalah meningkatkan peluang kompetisi pada sector
telekomunikasi, terutama karena implementasinya cukup mudah serta membuka
peluang "local content".
5.
Kesimpulan
Hasil pembahasan memberikan gambaran mengenai kelebihan dan
kekurangan teknologi WiMAX, yaitu:
Kelebihan
Kelebihan
- WiMAX merupakan teknologi broadband wireless acess yang menawarkan standar open, dengan aplikasi fixed dan mobile (portable).
- Lisensi WiMAX berbasis regional, bukan nasional seperti 3G sehingga biaya lisensi lebih murah dan akhirnya mudah diterima pasar.
- Terminal WiMAX akan embedded di consumer goods, seperti computer notebook, smart phone dan PDA. Karena didukung oleh banyak pihak yang setingkat otorisasinya kemungkinan WiMAX lebih cepat diterima pasar.
Kekurangan
- Karena menggunakan pita spektrum frekuensi tinggi, maka cakupan layanan WiMAX lebih kecil dibanding 3G sehingga jumlah base station yang dibutuhkan untuk mencakup luas yang sama dibutuhkan lebih banyak jumlah base station.
- Alokasi spektrum frekuensi WiMAX memerlukan penyesuaian terhadap alokasi frekuensi eksisting di tiap negara. Ketidakseragaman alokasi frekuensi menyebabkan harga perangkat menjadi mahal.
- Kemampuan ; WiMAX untuk mobilitas akan tidak sebagus sistem seluler dan konsumsi battery akan lebih boros.
6.
Rekomendasi
Berdasarkan kelebihan dan kekurangan WiMAX yang sudah
diketahui maka penulis memberikan beberapa rekomendasi supaya teknologi ini
dapat diterapkan di Indonesia, yaitu:
- Pemerintah harus tegas mengeluarkan regulasi penataan frekuensi WiMAX agar tidak tumpang tindah terhadap jaringan telekomunikasi eksisting. Penggeseran frekuensi 3.5 GHz yang telah digunakan operator satelit untuk alokasi frekuensi BWA akan berakibat buruk terhadap negara, karena mencari pengganti spectrum frekuensi satelit lebih sulit dibanding frekuensi terrestrial.
- Pemerintah harus mendorong kepada terciptanya masyarakat telekomunikasi dan informasi dengan memfasilitasi penggelaran WiMAX di Indonesia, karena sistem ini relative murah sehingga lebih mungkin diselenggarakan oleh operator kecil.
- Operator BWA harus mempertimbangkan cakupan layanan sesuai dengan permintaan pelanggan dengan tepat karena bila tidak akan dibutuhkan jumlah base station yang banyak sehingga investasi menjadi tidak efisien.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar