MAKALAH FISIKA
GERAK HARMONIS
SEDERHANA

DISUSUN OLEH:
1. HERU SAHPUTRO
2. ARDIYAN TIO KOMARUDIN
DAFTAR ISI:
1. BAB 1
2. BAB 11
3. BAB 111
4. BAB 1V
5. DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Setiap gerak yang terjadi secara
berulang dalam selang waktu yang sama disebut gerak periodik. Karena gerak ini
terjadi secara teratur maka disebut juga sebagai gerak harmonik / harmonis.
Apabila suatu partikel melakukan gerak periodik pada lintasan yang sama maka
geraknya disebut gerak osilasi / getaran. Bentuk yang sedrhana dari gerak
periodik adalah benda yang berosilasi pada ujung pegas. Karenanya kita
menyebutnya gerak harmonik sederhana. Banyak jenis gerak lain (osilasi dawai,
roda keseimbangan arloji, atom dalam molekul, dan sebagainya) yang mirip dengan
jenis gerakan ini.
Dalam kehidupan sehari-hari, gerak
bolak-balik benda yang bergetar terjadi tidak tepat sama karena pengaruh gaya
gesekan. Ketika kita memainkan gitar, senar gitar tersebut akan berhenti
bergetar apabila kita menghentikan petikan. Demikian juga bandul yang berhenti
berayum jika tidak digerakan secara berulang. Hal ini disebabkan karena adanya
gaya gesekan. Gaya gesekan menyebabkan benda-benda tersebut berhenti
berosilasi. Jenis getaran seperti ini disebut getaran harmonik teredam.
Walaupun kita tidak dapat menghindari gesekan, kita dapat meniadakan efek
redaman dengan menambahkan energi ke dalam sistem yang berosilasi untuk mengisi
kembali energi yang hilang akibat gesekan, salah satu contohnya adalah pegas
dalam arloji yang sering kita pakai.
Tujuan
1.
Mengungkapkan
Hukum Hooke.
2.
Menyelesaikan
soal-soal gerak harmonik sederhana.
3.
Menentukan
tetapan gas dan massa efektif pegas dengan melaksanakan percobaan ayunan pegas
yang dibebani.
4.
Menentukan
percepatan gravitasi dengan mengukur perpanjangan pegas yang dibebani.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Gerak harmonik
sederhana adalah gerak bolak – balik benda melalui suatu titik keseimbangan
tertentu dengan banyaknya getaran benda dalam setiap sekon selalu konstan.
Gerak Harmonik Sederhana dapat dibedakan
menjadi 2 bagian, yaitu:
§ Gerak Harmonik
Sederhana (GHS) Linier, misalnya penghisap dalam silinder gas, gerak osilasi
air raksa / air dalam pipa U, gerak horizontal / vertikal dari pegas, dan sebagainya.
§
Gerak Harmonik Sederhana (GHS) Angular, misalnya gerak bandul/ bandul
fisis, osilasi ayunan torsi, dan sebagainya.
Beberapa Contoh Gerak Harmonik
Sederhana
§ Gerak harmonik pada
bandul
Ketika beban digantungkan pada ayunan
dan tidak diberikan gaya, maka benda akan dian di titik keseimbangan B. Jika
beban ditarik ke titik A dan dilepaskan, maka beban akan bergerak ke B, C, lalu
kembali lagi ke A. Gerakan beban akan terjadi berulang secara periodik, dengan
kata lain beban pada ayunan di atas melakukan gerak harmonik sederhana.
§ Gerak harmonik pada
pegas
Semua pegas memiliki panjang alami sebagaimana tampak pada gambar. Ketika
sebuah benda dihubungkan ke ujung sebuah pegas, maka pegas akan meregang
(bertambah panjang) sejauh y. Pegas akan mencapai titik kesetimbangan jika
tidak diberikan gaya luar (ditarik atau digoyang).
Besaran
Fisika pada Ayunan Bandul
Periode (T)
Benda yang bergerak harmonis sederhana pada ayunan sederhana memiliki
periode. Periode ayunan (T) adalah waktu yang diperlukan benda untuk melakukan
satu getaran. Benda dikatakan melakukan satu getaran jika benda bergerak dari
titik di mana benda tersebut mulai bergerak dan kembali lagi ke titik tersebut.
Satuan periode adalah sekon atau detik.
Frekuensi
(f)
Frekuensi adalah banyaknya getaran yang dilakukan oleh benda selama satu
detik, yang dimaksudkan dengan getaran di sini adalah getaran lengkap. Satuan
frekuensi adalah hertz.
Hubungan
antara Periode dan Frekuensi
Frekuensi adalah banyaknya getaran yang terjadi selama satu detik. Dengan
demikian selang waktu yang dibutuhkan untuk melakukan satu getaran tersebut
Selang waktu yang dibutuhkan untuk melakukan satu getaran adalah periode. Dengan demikian, secara matematis hubungan antara periode dan frekuensi
Selang waktu yang dibutuhkan untuk melakukan satu getaran adalah periode. Dengan demikian, secara matematis hubungan antara periode dan frekuensi
Amplitudo
Pada ayunan sederhana,
selain periode dan frekuensi, terdapat juga amplitudo. Amplitudo adalah
perpindahan maksimum dari titik kesetimbangan.
Gaya Pemulih
Gaya pemulih dimiliki
oleh setiap benda elastis yang terkena gaya sehingga benda elastis tersebut
berubah bentuk. Gaya yang timbul pada benda elastis untuk menarik kembali benda
yang melekat padanya di sebut gaya pemulih.
Gaya Pemulih
pada Pegas
Pegas adalah salah satu contoh benda elastis. Oleh sifat elastisnya ini,
suatu pegas yang diberi gaya tekan atau gaya regang akan kembali pada keadaan
setimbangnya mula- mula apabila gaya yang bekerja padanya dihilangkan. Gaya
pemulih pada pegas banyak dimanfaatkan dalam bidang teknik dan kehidupan
sehari- hari. Misalnya di dalam shockbreaker dan springbed. Sebuah pegas berfungsi meredam getaran saat
roda kendaraan melewati jalan yang tidak rata. Pegas – pegas yang tersusun di
dalam springbed akan memberikan kenyamanan saat orang tidur.
Susunan Pegas
Konstanta pegas dapat berubah nilainya,
apabila pegas – pegas tersebut disusun menjadi rangkaian. Besar konstanta total
rangkaian pegas bergantung pada jenis rangkaian pegas, yaitu rangkaian pegas
seri atau paralel.
§ Seri / Deret
Gaya yang bekerja pada setiap pegas
adalah sebesar F, sehingga pegas akan mengalami pertambahan panjang
sebesar dan . Secara umum,
konstanta total pegas yang disusun seri dinyatakan dengan persamaan :
, dengan kn = konstanta pegas ke – n.
, dengan kn = konstanta pegas ke – n.
§ Paralel
Jika rangkaian pegas ditarik dengan gaya
sebesar F, setiap pegas akan mengalami gaya tarik sebesar F1 dan F2, pertambahan
panjang sebesar dan . Secara umum,
konstanta total pegas yang dirangkai paralel dinyatakan dengan persamaan :
ktotal = k1 + k2 + k3 +….+ kn, dengan kn = konstanta pegas ke – n
Gerak Harmonik Sederhana pada Pegas
GERAK HARMONIK
SEDERHANA PADA PEGAS
Semua pegas memiliki panjang alami. Ketika sebuah benda dihubungkan ke
ujung sebuah pegas, maka pegas akan meregang (bertambah panjang) sejauh y.
Pegas akan mencapai titik kesetimbangan jika tidak diberikan gaya luar (ditarik
atau digoyang). Jika beban ditarik ke bawah sejauh y1 dan dilepaskan,
Gerakannya terjadi secara berulang dan periodik. Kita tinjau pegas yang
dipasang horisontal, di mana pada ujung pegas tersebut dikaitkan sebuah benda
bermassa m. Massa benda kita abaikan, demikian juga dengan gaya gesekan,
sehingga benda meluncur pada permukaan horisontal tanpa hambatan. Terlebih
dahulu kita tetapkan arah positif ke kanan dan arah negatif ke kiri. Setiap
pegas memiliki panjang alami, jika pada pegas tersebut tidak diberikan gaya.
Pada kedaan ini, benda yang dikaitkan pada ujung pegas berada dalam posisi
setimbang. Apabila benda ditarik ke kanan sejauh +x (pegas diregangkan), pegas
akan memberikan gaya pemulih pada benda tersebut
Besar gaya pemulih F ternyata
berbanding lurus dengan simpangan x dari pegas yang direntangkan atau ditekan
dari posisi setimbang (posisi setimbang ketika x = 0).Persamaan ini sering
dikenal sebagai hukum hooke dan dicetuskan oleh paman Robert
Hooke. k adalah konstanta dan x adalah simpangan. Hukum
Hooke akurat jika pegas tidak di tekan sampai kumparan pegas
bersentuhan atau diregangkan sampai batas elastisitas. Tanda negatif
menunjukkan bahwa gaya pemulih alias F mempunyai arah berlawanan dengan
simpangan x. Konstanta pegas berkaitan dengan kaku atau lembut sebuah pegas.
Semakin besar konstanta pegas (semakin kaku sebuah pegas), semakin besar gaya
yang diperlukan untuk menekan atau meregangkan pegas. Sebaliknya
semakin lembut sebuah pegas (semakin kecil konstanta pegas),
semakin kecil gaya yang diperlukan untuk meregangkan pegas. Untuk meregangkan
pegas sejauh x, kita akan memberikan gaya luar pada pegas, yang besarnya sama
dengan F = +kx. Pegas dapat bergerak jika terlebih dahulu diberikan gaya luar.
Besaran fisika pada Gerak Harmonik
Sederhana pada pegas pada dasarnya sama dengan ayunan sederhana, yakni terdapat
periode, frekuensi dan amplitudo. Jarak x dari posisi setimbang disebut
simpangan. Simpangan maksimum alias jarak terbesar dari titik setimbang disebut
amplitudo (A). Satu getaran Gerak Harmonik Sederhana pada pegas
adalah gerak bolak balik lengkap dari titik awal dan kembali ke titik yang
sama.
BAB 111
CONTOH SOAL DAN PEMBAHASAN:
1. Seutas kawat berdiameter 2 cm digunakan
untuk menggantungkan lampu 31,4 kg pada langit-langit kamar. Tegangan (stress)
yang dialami kawat sekitar … (g=10 m/s2)
2.
Sebuah
pegas digantungkan pada langit-langit sebuah lift. Di ujung bawah pegas
tergantung beban 50 g. Ketika lift diam, pertambahan panjang pegas 5 cm.
Pertambahan panjang pegas jika lift bergerak ke bawah dengan percepatan 3 m/s2
adalah … (g=10 m/s2)
3.
Sebuah
benda bermassa 50 gram bergerak harmonic sederhana dengan amplitude 10 cm dan
periode 0,2 s. Besar gaya yang bekerja pada system saat simpangannya setengah
amplituo adalah sekitar …
4.
Dua
buah osilator bergetar dengan fase sama pada t=0. Frekuensi getaran 10 Hz dan
40 Hz. Setelah 5/4 sekon, kedua getaran itu berselisih sudut fase …
5.
Sebuah
pegas yang panjangnya 20 cm digantungkan vertical. Kemudian ujung di bawahnya
diberi beban 200 gram sehingga panjangnya bertambah 10 cm. Beban ditarik 5 cm
ke bawah kemudian dilepas hingga beban
bergetar harmonic. Jika g=10 m/s2. Maka frekuenzi getaran adalah …
JAWABAN
DAN PEMBAHASAN:
1.
Diketahui : d = 2 cm = 2 x 10-2 m
r = 1 cm = 1 x 10-2 m
m = 31,4 kg
g = 10 m/s2
Ditanyakan : Tegangan (σ)
Jawab :
F = m . g
F = 31,4 . 10
F = 314 N
A = π.r2
A= 3,14 . (1 X 10-2)2
A= 3,14 . 10-4
2.
Diketahui : m = 50 g
∆x1 (Keadaan lift diam) = 5 cm = 0,05 m
a= 3 m/s2
Ditanyakan : ∆x2 (Keadaan lift bergerak)
Jawab :
Keadaan Lift Diam Keadaan
Lift Bergerak
F = k . ∆x1 ΣF
= m.a
m.g = k . 0,05 w – Fp = m.a
0,05 . 10 = 0,05 k mg
- k . ∆x2 = m.a
K = 10 0,05.10
– 10∆x2 = 0,05.3
0,5
- 10∆x2 = 0,15
10∆x2
= 0,35
∆x2
= 0,035 m = 3, 5 cm
3.
Diketahui : m = 50 g = 0,05 kg
T = 2 s
A = 10 cm = 0,1 m
Ditanyakan : F pada saat Y = 0,5 A
Jawab :
4. Diketahui : t = 5/4 s
f2 = 40 Hz
f1 = 40 Hz
Ditanyakan : ∆θ
Jawab :
∆θ = θ2 – θ1
= 2π φ2-2π
φ1
=2π (φ2- φ1)
=2π (f2t-f1t)
=2π [40(5/4) - 10(5/4)]
= 2π (50 – 12,5)
=2π (37,5)
= 75 π
= 180˚
5.
Diketahui : m = 200 g = 0,2 kg
Δx = 10cm = 0,1 m
g = 10 m/s2
g = 10 m/s2
Ditanyakan : f
Jawab :
BAB 1V
PENUTUP
Kesimpulan
1. Percepatan gravitasi dapat ditentukan
dengan mengukur perpanjangan pegas yang dibebani.
2. Gerak Harmonik Sederhana (GHS) adalah
gerak periodik, yaitu gerak berulang atau berosilasi dalam interval waktu tetap
pada siklus waktu tertentu dengan lintasan yang ditempuh selalu tetap pula.
3. Perbedaan nilai antara g literatur dengan
g percobaan dapat terjadi karena adanya ketidaktepatan dalam data saat
praktikum yang dapat disebabkan karena faktor lingkungan maupun ketidaktelitian
praktikan.
Saran
1. Sebelum memulai praktikum, sebaiknya
praktikan sudah memiliki gambaran tentang praktikum yang akan dilakukan dan
mengerti tujuan, prinsip, serta prosedur praktikum ini.
2. Sebelum pembacaan skala, sebaiknya
praktikan menunggu beberapa saat sampai keadaan ember menjadi stabil kemudian
praktikan harus teliti dalam pembacaan skala nya agar data yang didapat bisa
lebih tepat.
3. Penggunaan stopwach dalam mengukur waktu
yang dibutuhkan untuk ber-osilasi harus dilakukan dengan cermat dan tepat agar
data yang didapatkan lebih akurat.
4. Menjaga peralatan yang akan dipakai untuk
praktikum agar tetap layak digunakan
walaupun sudah lama.
BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Ardhana.
2010. Gerak Harmonik Sederhana. Terdapat pada :
http://ardhanapriadi.blog.com/2010/12/13/gerak-harmonik-sederhana/ (diakses pada tanggal 20 Oktober 2012 pukul
17.00)
Bakokek.
2011. Gerak Harmonis Ayunan Sederhana. Terdapat pada :
http://bakokek.blogspot.com/2011/11/laporan-praktikum-fisika-gerak-harmonis.html
(diakses pada tanggal 20 Oktober 2012 pukul 17.41)
Setiya,
Septian. 2012. Gerak Harmonik Sederhana. Terdapat pada :
http://blog.uad.ac.id/septian/2012/01/01/gerak-harmonik-sederhana/ (diakses
pada tanggal 20 Oktober 2012 pukul 17.21)
Yosua,
Carlos. 2010. Gerak Harmonis. Terdapat pada :
http://carlosyosua.wordpress.com/category/fisika/ (diakses pada tanggal 20
Oktober 2012 pukul 18.07)
Zaida, Drs.,
M.Si. Petunjuk Praktikum Fisika Dasar. Faperta UNPAD.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar